Doa bahasa Indonesia dan ucapan tahun baru 2025 kerap diucapkan masyarakat secara khusus untuk merayakan pergantian tahun. Selain euforia pesta kembang api dan barbeque party, sebagian orang akan baca doa dan saling memberikan ucapan selamat. Misalnya, doa tahun baru 2025 bisa berupa harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kesuksesan karier, maupun doa untuk keluarga.
Awal tahun baru juga biasanya dijadikan momentum untuk memulai kebiasaan baik, seperti rutin olahraga maupun menerapkan pola makan sehat. Tidak jarang orang-orang menuliskan resolusi tahun baru yang akan dijadikan panduan dalam menjalani kehidupan selama satu tahun ke depan.
Sayangnya, malam pergantian tahun di akhir zaman ini juga identik dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma masyarakat dan agama. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini banyak orang yang merayakan tahun baru dengan pesta-pesta yang penuh kemaksiatan.
Sebenarnya, seperti apa pandangan Islam terhadap momen pergantian tahun baru? Bagaimana doa tahun baru 2025 yang sesuai tuntunan Rasulullah Saw.? Sebelum kita ikut-ikutan merayakan tahun baru tanpa tahu ilmunya, simak dulu penjelasan berikut!
Hukum Merayakan Tahun Baru
Islam memiliki sistem penanggalan sendiri yang biasa disebut kalender Hijriah sebagai patokan dalam menjalankan ibadah yang terkait tanggal dan bulan tertentu. Misalnya untuk melakukan puasa Ramadhan, menunaikan zakat fitrah, maupun puasa sunnah di hari Arafah.
Baca Juga:
Doa Nabi Yunus Saat Menghadapi Kesulitan
Meskipun demikian, secara umum umat Muslim juga menggunakan sistem kalender Masehi dalam penanggalan sehari-hari. Di Indonesia, penetapan hari-hari besar Nasional diperingati berdasarkan penanggalan kalender Masehi. Tidak heran jika akhirnya momen pergantian tahun baru pun dirayakan berdasarkan kalender Masehi, yaitu malam tanggal 1 Januari.
Berdasarkan penelusuran Muslim.or.id, sejarah perayaan tahun baru dimulai sejak abad ke 46 SM. Saat itu Raja Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun. Orang Romawi mempersembahkan hari 1 Januari kepada Janus yang dianggap Dewa gerbang dan permulaan waktu.
Nama Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah. Satu wajah menghadap ke depan (masa depan) dan satu wajah lagi menghadap ke belakang (masa lalu). Keterangan tersebut dijelaskan dalam buku “The World Book Encyclopedia” vol.14 hal.237.
Menilik sejarah tahun baru Masehi ini jelas bahwa perayaan tersebut bukan bagian dari ajaran Islam. Umat muslim hendaknya tidak berniat mengikuti perayaan malam tahun baru Masehi seperti pada umumnya yang orang-orang kafir lakukan. Rasulullah Saw. telah memberikan peringatan melalui hadits berikut:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR. Bukhori 7319).
Padahal jelas sekali Rasulullah Saw. menjelaskan larangan untuk tasyabuh atau menyerupai orang-orang kafir. Perbuatan tersebut dapat menempatkan kita termasuk dalam golongan yang kita ikuti.
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka,” (HR. Abu Daud no. 4031, dishahihkan oleh Al Albani).
Apakah tidak boleh umat Muslim merayakan malam pergantian tahun baru 2025? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 240949 menegaskan bahwa ikut serta dalam merayakan tahun baru termasuk kemungkaran yang tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim.
Dalam konteks hari raya, dalam Islam hanya ada dua hari raya, yaitu Idulfitri dan Iduladha, serta hari besar pekanan yaitu hari Jumat. Hari raya yang telah ditetapkan Allah ini lebih baik dari hari raya di masa jahiliyah.
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idulfitri dan Iduladha,” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Allah menegaskan bahwa dua hari raya tersebut yaitu Idulfitri (1 Syawal) dan Iduladha (10 Dzulhijjah) adalah lebih baik. Sudah seharusnya kita mencukupkan dengan ajaran Islam, sehingga tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Bukankah ajaran Islam sudah sempurna?
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3).
Menjadikan malam pergantian tahun baru sebagai perayaan khusus dengan segala tradisi yang bertentangan dengan Islam hukumnya jelas dilarang bagi umat Muslim. Namun kita dapat melakukan ibadah dan hal-hal baik lainnya seperti pada hari-hari biasanya, tanpa mengkhususkan pada momen pergantian tahun. Termasuk dengan memanjatkan doa-doa sesuai tuntunan Rasulullah Saw.
Doa Awal dan Akhir Tahun
Seperti disampaikan sebelumnya, Islam memiliki sistem kalender sendiri di mana awal tahun baru jatuh pada tanggal 1 Muharram. Namun, Rasulullah Saw. tidak pernah merayakan pergantian tahun baru hijriah sebagaimana orang-orang kafir merayakan tahun baru Masehi.
Apalagi bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan Haram. Pada bulan tersebut, larangan untuk perbuatan haram lebih ditekankan serta diharamkan perang dan pembunuhan. Bahkan orang-orang Jahiliyah pun meyakini kesucian bulan tersebut.
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36).
Baca Juga:
B1SA : Bangun 1000 Sumber Air Bersih
Meskipun demikian, momen pergantian tahun merupakan salah satu waktu yang bisa kita gunakan untuk bermuhasabah dan baca doa untuk kebaikan dunia akhirat. Melansir laman resmi MUI, berikut doa akhir tahun dan awal tahun yang tercantum dalam kitab Al-Jami’ Al-Kabir karya Imam As-Suyuthi.
Doa Awal Tahun:
اَللّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ. وَهَذَاعَامٌ جَدْيُددٌ قَدْ أَقْبَل. أَسسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مَنَ الشْيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وِالْعَوْنَ عَلَى هَذه النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالْاشْتِغَالِ بِمَا يُققَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَصَلَّي اللهُ عَلَي سَيّدِنَا مُحَمّدً وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِه وَسَلَّم
“Allahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwal. Wa ‘alaa fadhlikal-‘azhimi wujuudikal-mu’awwal. Wa haadzaa ‘aamun jadiidun qad aqbal. Nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa-ihii wa junuudihii. Wal’auna ‘alaa haadzhihin-nafsil-ammarati bis-suu-i. Wal-isytighaala bimaa yuqorribuni ilaika zulfa. Yaa dzal-jalaali wal-ikraam. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam.”
Doa bahasa Indonesia:
“Ya Allah Engkaulah yang abadi, dahulu, lagi awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu perlindungan dalam tahun ini dari godaan setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw. dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.”
Pada kitab tersebut juga dijelaskan doa akhir tahun, yakni:
اَللّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنَيْ عَنْهُ وَ لَمْ تُرُضِهِ وَ نَسِيْتَهُ وَ لَمْ تَنْسَهُ وَ حَلَمْتَ عَلَييَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَي عُقُوْبَتِيْ وَ دَعَوْتَنِيْ اِلَي التَّوْبَةِ بَعْدَ جُرْأَتِيْ عَلَى مَعْصِيتَكَ اَللّهُمَّ فَاِنِّيْ اسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِيْ وَ ممَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدتْنِي الثَّوَابَ فَاَسْاَلُكَ اللّهُمَّ يَا ذَا الْجُوْدِ وَالْكَرَمِ اَنْ تَقْبَلَهُ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ وَصَلَّي اللهُ عَلَي سَيّدِنَا مُحَمّدً وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِه وَسَلَّم
Allahumma maa ‘amiltu fi haadzhis-sanati mimmaa nahaitanii ‘anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubatii wa da’autanii ilat taubati ba’da jur-atii alaa ma’syiyatika, Allahumma fa inni astagfiruka fagfirlii wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa’adtanitsawaaba fas’alukallahumma yaa kariimu yaa dzal judi wal karami an tataqabbalahuu minnii wa laa taqtha’ rajaaii minka yaa kariim. wa shallalahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihii wa sahbihii wa sallam.”
Doa bahasa Indonesia:
“Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-mu, sedang kami belum bertaubat, padahal engkau tidak melupakannya dan engkau bersabar, yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau sudah mengajak saya untuk bertaubat sesudah saya maksiat. Karena itu ya Allah saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala yang telah saya kerjakan selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat yang maha pemurah. Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas pendahulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.”
Doa Awal Bulan dan Tahun Baru Sesuai Tuntunan Rasulullah
Terdapat perbedaan pendapat ulama terkait doa tahun baru, sebagian ulama mengatakan tidak ada tuntunan secara khusus. Melansir Rumaysho, Syaikh Bakr Bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah menjelaskan, “Syariat Islam tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan doa atau dzikir untuk awal tahun. Manusia saat ini banyak yang membuat kreasi baru dalam hal amalan berupa doa, dzikir atau tukar menukar ucapan tahun baru, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali,” (Tashih Ad Du’a’, hal.107).
Namun, kita dapat mengamalkan baca doa yang dituntunkan Rasulullah Saw. saat memasuki awal Bulan atau awal Tahun.
Dari ‘Abdullah bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa sebagaimana mengajarkan Al-Qur’an di mana doa ini dibaca saat memasuki awal bulan atau tahun:
اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيطَانِ، وَرِضوَانٍ مِنَ الرَّحمَنِ
Allohumma ad-khilhu ‘alainaa bil amni wal iimaan was salaamati wal islaam, wa jiwaarim minasy-syaithooni, wa ridhwanim minar rohmaan.
Doa bahasa Indonesia:
Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam, juga lindungilah kami dari gangguan setan, dan meraih ridha Allah (Ar-Rahman). (HR. Al-Baghawi dalam Mu’jam Ash-Shahabah, sanadnya sahih. Imam Ibnu Hajar mensahihkan hadits ini dalam Al-Ishabah, 6:407-408. Hadits ini mawquf termasuk perkataan sahabat sesuai syarat kitab shahih).
Bagi yang melihat hilal pada awal bulan, hendaklah membaca:
اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ
Allohumma ahlilhu ‘alayna bilyumni wal iimaan was salaamati wal islaami. robbii wa robbukallah.
Baca Juga:
Yuk, Ikut Berbagi Bahagia di Program Khitanan Massal HaloZakat!
Doa bahasa Indonesia:
Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah. (HR. Ahmad, 1:162 dan Tirmidzi, no. 3451, dan Ad-Darimi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Pergantian tahun baru 2025 adalah salah satu momen yang bisa dimaknai dengan berbagai cara, termasuk dengan baca doa. Doa tahun baru 2025 Arab, Latin, maupun doa bahasa Indonesia bisa menjadi sarana untuk menenangkan diri, menyusun harapan, dan memantapkan tujuan di tahun mendatang.
Namun jangan lupa, tahun baru juga perlu diisi dengan tindakan nyata untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Merenungkan apa yang telah dicapai, memperbaiki yang kurang, dan merencanakan langkah konkret dapat kita lakukan untuk memulai tahun baru. Semoga tahun 2025 dan seterusnya kita bisa menjadi lebih baik dan bertaqwa.